Milenial Menjaga Generasi Penerus dari Campak dan Rubella
“Milenial Menjaga Generasi
Penerus dari Campak dan Rubella”
Oleh: Anisa Dwisuci
Sabilla dan Titi Nur Afifah
UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang
Setiap kali menyalakan TV hampir
disetiap iklannya terdapat iklan vaksin tentang campak dan rubella, ternyata hal
ini dilakukan untuk mencegah anak bangsa yg berusia 9 bulan hinga 10 tahun
terjangkit virus campak dan rubella. Sebagian warga Indonesia tidaklah mengerti
bahaya dari campak dan rubella hingga akhirnya mereka tidak melakukan imunisasi
pada anak mereka. Hampir 70% anak bangsa terjangkit virus campak dan
rubella yang menyebabkan kecacatan pada diri mereka. Hal ini tentu menjadi
beban bangsa jika mempunyai generasi masa depan yang kondisinya seperti itu.
Berikut penjelasan tentang apa itu Rubella. Rubella
atau campak Jerman merupakan penyakit menular atau infeksi virus yang ditandai
dengan ruam merah berbentuk bintik-bintik pada kulit. Umumnya Rubella terjadi
pada anak yang belum mendapat vaksin campak, gondok, dan lain-lain. Tidak hanya
anak yang terserang penyakit Rubella, tetapi orang dewasa dan remaja pun bisa
terkena penyakit ini. Penyakit ini bisa menyebabkan kematian janin atau cacat
bawaan yang dikenal dengan sebagai “Sindroma Rubella Kongenital” (CRS). Tidak
ada pengobatan khusus untuk Rubella, namun penyakit ini dapat dicegah dengan
vaksinasi. Penularan utama penyakit dari penyakit ini melalui butiran udara
yang dikeluarkan penderita dari batuk atau bersin.
Rubella juga sangat berbahaya bagi ibu yang sedang hamil, oleh
karenanya ibu hamil harus memiliki kiat agar tidak terkena virus rubella, pada
prinsipnya penyakit ini disebabkan oleh virus dan gejala infeksi virus pada
umumnya. Oleh karenanya ibu hamil harus memerhatikan kondisi sekeliling,
pertama hindarilah berdekatan dengan orang yang sedang flu, kedua meningkatkan
kondisi tubuh dengan lebih banyak menambah waktu istirahat, makan makanan
seimbang dan minum vitamin, mungkin cara-cara tersebut sepele tetapi untuk
menjaga kesehatan janin sangat penting, karena rubella bisa mengakibatkan
kecacatan pada anak lebih baik mencegah daripada mengobati.

Sumber:
https://tirto.id/kampanye-imunisasi-mr-tolak-campak-dan-rubella-nbsp-ctbs
Dari tahun 2010 sampai 2015, diperkirakan terdapat
23.164 kasus campak dan 30.463 kasus rubella. Hal tersebut masih sedikit karena
jumlah dilapangan lebih banyak dan belum dilaporkan. Data menunjukan bahwa
jumlah anak-anak di Indonesia yang mendapatkan imunisasi MR (Meases Rubella)
masih kurang dari satu persen atau baru 0,05 persen. Padahal idealnya ada 95
persen anak yang telah mendapatkan imunisasi MR. Kurangnya pengetahuan akan
penyakit campak dan rubella menjadi salah satu faktor mengapa Indonesia masih
belum bebas dari penyakit ini. Kebanyakan masyarakat menyepelekan dan acuh
terhadap kampanye tentang imunisasi MR. Mereka kadang lupa dan tidak tahu
bahaya yang mengancam generasi bangsa. Faktor lain yang menyebabkan Indonesia
belum bebas campak dan rubella adalah kampanye pemerintah yang tidak merata.
Banyak di daerah terpencil yang masih belum mengetahui imunisasi MR. Serta
kurangnya fasilitas kesehatan pada daerah terpencil yang menyebabkan Indonesia
masih belum terbebas dari campak dan rubella.
Seperti yang kita ketahui banyak
ditengah-tengah kota besar sistem pelayanan kesehatan masih melihat status
sosial, banyak rumah sakit yang mementingkan administrasi dulu baru melakukan
pengobatan. Tetapi tidak semuanya sebagai contoh kota Bandung yang sudah
memiliki program dengan nama “Layad Rawat”, dan program ini 24 jam siap
melayani masyarakat kota Bandung. Dengan 11 ambulans motor yang ditempatkan di
8 puskesmas dan siap 24 jam melucur kerumah warga. Ini patut dicontoh oleh
kota-kota lainnya, ini juga peran pemerintah dengan memberikan dana khusus
untuk kesehatan masyarkatnya sangat patut dicontoh. Bukan berarti di
daerah-daerah terpencil sistem kesehatannya baik, Tidak karena daerah terpencil
sangat membutuhkan tenaga medis, bahkan banyak puskesmas di pelosok-pelosok
yang kekurangan tenaga medis. Oleh karena itu pemerintah harus bisa mengatur
distribusi tenaga medis ke pelosok-pelosok negeri, mengelola pembiayaan
kesehatan nasional, dan meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan
kesehatan.
Hal tersebut
menarik perhatian kami sebagai generasi bangsa yang khawatir akan kesehatan
Indonesia. Sebagai generasi muda yang tidak
berkecimpung pada dunia medis kita dapat meningkatkan kualitas kesehatan di
Indoensia dengan berbagai macam cara. Pertama kita sebagai generasi muda ikut
melakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang campak dan rubella secara umum
lalu menjelaskan dampak penyakit campak dan rubella yang membahayakan anak
bangsa. Serta ikut mengkampanyekan bahwa imunisasi MR adalah wajib untuk
memutus mata rantai campak dan rubella. Sebagai contoh, kita memanfaatkan
sosial media untuk mengkampanyekan pentingnya imunisasi MR agar masyarakat
tidak lalai dan menyepelakan tentang imunisasi MR. Kita juga dapat menjadi
anggota relawan kesehatan untuk membantu dokter dan orang orang yang
berkecimpung pada dunia medis. Misalnya, membantu menyiapkan area untuk
imunisasi di daerah terpencil dan menyediakan akses untuk bisa sampai ke daerah
terpecil. Mengapa kita
sebagai remaja harus tau mengenai penyakit rubella? karena kita
mungkin saja terjangkit walaupun resikonya kecil dibanding anak balita. Kedua
kita juga akan menjadi orang tua yang minimal harus tahu tentang
penyakit-penyakit umum agar tahu langkah pertama jika anak terserang rubella.
Karena rumah bukan hanya ”Madrasah pertama bagi anak tetapi juga RS pertama
bagi anak”.
Kesimpulan dari esai ini adalah, semakin banyak
virus dan penyakit asing masuk ke Indonesia, maka penyuluhan-penyuluhan
sangat dibutuhkan supaya masyarakat memahami tentang penyakitnya bukan hanya namanya saja. Campak dan rubella hanya salah
satunya saja. Sebagai milenial yang peduli akan kesehatan bangsa tidak harus
ikut dalam posyandu, melainkan dengan tulisan, lisan, dan media sosial kita dapat mengkampanyekan tentang bahayanya penyakit ini. Dengan banyaknya orang yang
“melek” akan kesadaran pentingnya imunisasi ini akan menekan laju penurunan dari virus campak dan rubella ini. Bersama milenial maka kemungkinan jumlah generasi penerus yang
terserang campak dan rubella di Indonesia dapat berkurang dan menuju Indonesia
yang sehat.
Komentar
Posting Komentar