Identifikasi tunagrahita dan tunarungu



Nama: Titi Nur Afifah
Jur/NIM: PGMI-E/16140063
Dosen Pengampu: Dr. Alam Aji Putera.M.Pd
Hasil laporan “Identifikasi jenis-jenis siswa ABK di SLB Idayu2”.
Nama guru: Bu Eni
Siswa di kelas: 4 orang siswa
1.      Apa saja ciri-ciri umum siswa yang diampu guru tersebut.
Di dalam kelas yang kami masuki terdapat 4 orang siswa, sebetulnya ada 5 orang siswa tetapi pada hari itu siswa berhalangan hadir dikarenakan sakit. Dalam kelas ada dua macam ketunaan. Tiga anak tunagrahita, dua anak grahita ringan satu lainnya sedang. Dan ada anak satu yang tuna rungu.
a.       Ciri-ciri umum anak tunagrahita
Karateristik anak tunagrahita ringan, meskipun tidak dapat menyamai anak normal yang seusianya mereka dapat membaca, menulis, dan berhitung sederhana. Pada usia 16 mereka dapat mempelajari pelajaran yang setara dengan anak kelas 3 dan 5 sd. Pembendaharaan kata pada anak grahita ringan juga sangat terbatas, tetapi berdasarkan pengamatan di kelas anak tunagrahita ringan mampu memahami perintah dan hanya mengulang 2 kali.
Karateristik anak tunagrahita sedang, anak tunagrahita sedang hampir tidak bisa mempelajari pelajaran akademik. Tunagrahita sedang hanya bisa menirukan, berdasarkan pengamatan di kelas anak grahita ringan setelah mendapat pelajaran dia paham tetapi setelah di tinggal 5 menit saja anak akan lupa. Mereka berkomunikasi dengan beberapa kata, dapat mengenali namanya, nama orang tua dan alamatnya sendiri. Sampai batas tertentu mereka selalu membutuhkan pengawasan, pada saat di kelas anak tungrahita ringan masih di antar untuk pergi ke kamar mandi, dikhawatirkan jika sendiri malah membahayakan dirinya sendiri.
b.      Ciri-ciri anak tunarungu
Anak tunarungu dalam kelas ada satu, dan tuna rungu ringan. Ciri-cirinya adalah anak mampu mendengarkan walaupun suaranya harus lebih dikeraskan. Siswa yang mengalami tunarungu ringan mengalami hambatan dalam perkembangan bahsanya sehingga memerlukan terapi bicara. Pada saat di kelas anak tunarungu unggul dibanding siswa yang lain siswa langsung paham perintah dan benar mengerjakan tugas yang diberikan. Hanya saja keterbatasan dalam mendengar.
2.      Kesulitan belajar apakah yang dihadapi guru berdasarkan kondisi siswa tersebut.
Di dalam kelas terdapat 4 anak yang memiliki ketunaan yang berbeda, maka kesulitan yang dihapi pun berbeda setiap anak. Bahkan sama ketunaan belum tentu kesulitan yang dihapi sama berbeda setiap anak.
a.       Kesulitan belajar anak tunagrahita
Kesulitan belajar pada anak tunagrahita ringan dan sedang hampir sama, yang pertama kesulitan  membaca. Pada waktu observasi di kelas terlihat bahwa anak tunagrahita ringan masih mengeja dan sangat kesulitan pada waktu membaca. Saat guru mendikte kata “Melihat” anak masih salah mengeja huruf “t” dengan “d”. Dan anak tunagrahita sedang masih belajar untuk menulis huruf e, dan itupun masih kesulitan. Metode yang dilakukan guru adalah dengan mengeja lebih keras dan mengumpamakan huruf dengan hal kongkret contoh “m” berkaki tiga.
Kesulitan yang kedua adalah kesulitan mengingat, kesulitan ini sangat kronis pada anak tunagrahita, terlebih grahita sedang. Ketika di beri tahu dia akan menirukan tapi jika ditinggal 5 menit akan lupa. Metode yang dilakukan guru adalah harus mengulang dan mengulang bahkan sampai 6-7 kali agar anak ingat.
Kesulitan yang ketiga adalah menulis, jika membacanya sulit makan menulisnya juga akan kesulitan. Anak tunagrahita memiliki kesulitan dalam mengingat simbol. Metode yang digunakan guru adalah guru mengumpamakan huruf dengan hal kongkret contoh “b” perutnya ada di depan.
b.      Kesulitan anak tunarungu
Pada umumnya intelegensi anak tuna rungu secara potensial sama dengan anak normal. Tetapi secara fungsional perkembangannya dipengaruhi oelh tingkat kemampuan bahasannya, akibatnya pencapaian pengetahuan yang luas juga akan terhambat. Anak tunarungu harus belajar banyak kosakata dan ini mejadi kesulitan karena tidak semua mengetahui bahsa isyarat. Di dalam kelas anak tuna rungu tidak dibiasakan dengan mengguanakan bahasa isyarat, melainkan dengan speechreading dengan membaca derakan mulut dan tangan orang yang di ajak berbicara.
3.      Seberapa besar peran orang tua dalam proses belajar mengajar dalam kelas.
Siswa SLB lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah oleh karenanya pola asuh yang benar dari orang tua memengaruhi KBM dalam kelas, makanan yang dimakan oleh siswa juga sangat memengaruhi anak oleh karenanya orangtua harus tau makanan apa yang sebaiknya dihindari.
a.       Pola asuh
Menurut Bu. Eni, anak ABK tidak boleh dimanjakan dengan sangat karena akan bahaya untuk masa depannya. Orang tua harus tegas memberikan perintah sebagai contoh “Ambil sapu dan sapu lantai”. Jika anak tidak mau ulangi perintah sampai dia melakukan apa yang diperintahkan. Ini sangat membantu di masa depannya nanti untuk mengikuti dengan siapa bekerja, kita boleh mengkasihani tetapi jangan berlebih. Mereka harus mandiri karena orang tua mereka tidak hidup selamanya. Bukannya dikerasi tidak sayang melainkan menanamkan disiplin pada anak. Karenanya pola asuh dirumah sangat memengaruhi jika dirumah manja maka di sekolah guru akan kesusahan mengkontrol tingkah laku anak dalam kelas.
b.      Makanan yang mempengaruhi
Makanan untuk anak tunagrahita dan tunarungu tidak ada masalah, berbeda dengan dengan anak autis, autis tidak boleh memakan banyak karbohidrat. Anak autis harus diet gandum dan susu, anak autis harus menjalankan diet tersebut karena bisa mengurangi gelaja tingkah laku autisme anak. Anak autis juga harus diet fermentasi, coklat, gula, dan junkfood yang paling penting. Bu. Eni juga bercerita salah satu siswanya ada yang autis ketika di kelas tertawa terus dari awal pelajaran hingga akhir, ketika ditanyakan pada orang tua siswa tersebut ternyata pada malam harinya neneknya memberikan mie walau tidak sampai habis. Ini membuktikan bahwa makanan sangat memengaruhi KBM dalam kelas.
4.      Jika saya di inklusi ada anak ABK apa yang harus saya lakukan.
Tidak menutup kemungkinan mahasiswa jurusan pendidikan khusunya PGMI/PGSD terdapat anak ABK di dalam kelas. Lantas harus bagaimana yang guru lakukan. Yang pertama adalah tidak menolak keberadaan anak tersebut. Guru kelas juga bisa berkonsultasi dengan mendatangakan guru khusus. Guru khusus selalu mendampingi siswa ABK saat KBM berlangsung membantu anak untuk mempelajari materi yang disampaikan guru kelas.
Melalui pendidikan inklusi ini diharpkan anak berkelaianan atau berkubutuhan khusus dapat dididik dan tidak ada kesenjangan antara ABK dan anak normal. Namun untuk saat ini, kelas inklusi hanya dipersiapkan untuk kebijakan Sekolah Dasar (SD) saja. Sekolah inklusi meyakini bahwa semua anak dapat belajar dan tergabung dengan komunitas umum. Keanekaragaman anak dihargai, dan menguatkan kelas untuk anak ABK mendapat kesempatan mempelajari pelajaran yang lebih banyak.
5.      Apakah anak berkebutuhan khusus mengikuti UN, jika iya siapa yang membuat soal dan kurikulum untuk mereka dan bagaimana standart kelulusan bagi ABK.
Dari hasil penuturan Bu.Eni, bahwa ujian untuk anak berkebutuhan khusus ADA. Tetapi jika untuk anak tunagrahita kurikulum dan soal ujian yang menyusun adalah SLB itu sendiri. Tetapi jika untuk anak tunarungu dari pemerintah pusat,  model dan tingkat kesulitan ujian ABK tidak sama dengan anak normal. Jadi yang menentukan kelulusan anak tersebut adalah dari sekolah tersebut sendiri.
Pada waktu observasi di dalam kelas mempunyai dua ketunaan berbeda, dan setiap anak mendapat pelajaran yang berbeda, karena tunarungu di kelas memiliki intelegensi lebih tinggi maka materi yang di dapat sedikit diatas teman yang lainnya. Oleh karenanya ujiannya tidak bisa disamakan seperti anak normal dengan tingkat kesulitan sama, yang tahu kemampuan pasti anak tersebut adalah guru kelas itu sendiri. 

Semoga Bermanfaat

Komentar